PROSPEK PEMBELAJARAN BAHASA DITINJAU DARI FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT

Oleh Muksil

I.  PENDAHULUAN

Menteri Pendidikan Nasional, Mohammad Nuh, mengatakan bahwa sebanyak 73 persen dari 154.000 siswa yang tidak lulus ujian nasional (UN) tingkat SMA/SMK/MA disebabkan siswa tidak lulus mata pelajaran bahasa Indonesia. Ia menilai bahwa hal itu disebabkan sikap siswa yang menyepelekan mata pelajaran tersebut serta metode pembelajaran yang salah,” katanya (Suara Pembaruan, Kamis 29 April 2010).

Pendapat serupa dikemukakan oleh Kepala Bidang Pembinaan Bahasa, Pusat Bahasa, Kementerian Pendidikan Nasional, Mustakim. “Siswa menyepelekan bahasa Indonesia karena merasa sudah digunakan sehari-hari,” ujarnya.  “Faktor lainnya, kemungkinan metodologi pengajaran bahasa di sekolah lebih berorientasi pada tata bahasa, bukan bagaimana menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan baik dan benar.”

Direktur Lembaga Pendidikan Teknos, Bagia Mulyadi, menilai bahwa anjloknya nilai mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan cermin rendahnya minat siswa mempelajari bahasa nasional ini karena mereka lebih ditekankan untuk belajar bahasa Inggris dan matematika.

“Bahasa Indonesia itu ilmu,” katanya, “Dalam soal-soal UN bahasa Indonesia siswa diuji tingkat analisis yang cukup mendalam. Soal tersebut dibuat oleh para pakar. Anak-anak tidak menangkap maksudnya. Akibatnya, mereka salah menginterpretasikan,” paparnya.

Menurutnya, kenyataan ini menunjukkan para guru tidak berhasil mengajar bahasa Indonesia. “Ke depan Kemdiknas dan tenaga pengajar harus menekankan pelajaran bahasa Indonesia sebagai ilmu bahasa. Menyejajarkan pelajaran bahasa Indonesia dengan pelajaran lainnya,” tandas Mulyadi.

Demikianlah gambaran tentang minat siswa terhadap pelajaran bahasa Indonesia dan metode pembelajaran bahasa Indonesia dewasa ini.

Mengapakah siswa kurang berminat pada pelajaran bahasa Indonesia? Benarkah tata bahasa dan semacamnya itu membosankan? Bagaimana prospek pembelajaran bahasa Indonesia? Apa faktor pendukung dan penghambatnya?

Lain Dulu Lain Sekarang

Tampak tak ada permasalahan ketika bahasa Melayu dinobatkan sebagai bahasa persatuan pada Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928 di Jakarta. Para peserta kongres tidak mempersoalkan jumlah minoritas penutur bahasa Melayu. Menurut Prof. Dr. Kuntjaraningrat, jumlah penutur bahasa Jawa 40,2 juta orang, bahasa Sunda 20 juta, sedangkan bahasa Melayu saat itu hanya berpenutur ½ juta orang.[1]

Mengapa justru bahasa Melayu yang dipilih sebagai bahasa nasional?

Prof Dr. Slametmulyana (dalam Badudu: 1981) mengemukakan empat faktor penyebab yang ringkasnya sebagai berikut:

Prof. Dr. Slametmulyana mengemukakan empat faktor penyebab[2]:

1.      Sejarah telah membantu penyebaran bahasa Melayu. Bahasa Melayu merupakan lingua-franca di Indonesia,  bahasa perhubungan/perdagangan. Malaka pada masa jayanya menjadi pusat perdagangan dan pusat pengembangan agama Islam. Dengan bantuan para pedagang, bahasa Melayu disebarkan ke seluruh pantai Nusantara, terutama di kota-kota pelabuhan. Bahasa Melayu menjadi penghubung antarindividu.

Karena bahasa Melayu itu sudah tersebar dan boleh dikatakan sudah menjadi bahasa sebagian besar penduduk, Gubernur Jenderal Rochussen lalu menetapkan bahwa bahasa Melayu dijadikan bahasa pengantar di sekolah untuk mendidik calon pegawai negeri bangsa bumiputra.

Dari satu segi kita katakan bahwa masa pendudukan Jepang telah membantu makin tersebarnya bahasa Indonesia karena Pemerintah (Balatentara) Jepang melarang pemakaian bahasa musuh, seperti bahasa Belanda dan Inggris. Karena itu,  bahasa  Indonesia mengalami kontak sosial di seluruh wilayah Indonesia dengan berpuluh-puluh bahasa daerah.

2.      Bahasa Melayu mempunyai sistem yang sederhana, ditinjau dari segi fonologi, morfologi, dan sintaksis[3]. Karena sistemnya yang sederhana itu, bahasa Melayu mudah dipelajari. Dalam bahasa ini, tak dikenal tingkatan bahasa seperti dalam bahasa Jawa atau Bali, atau pembedaan pemakaian bahasa kasar dan bahasa halus seperti dalam bahasa Sunda.

3.      Faktor psikologi, yaitu bahwa suku bangsa Jawa dan Sunda telah dengan sukarela menerima bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, semata-mata karena didasarkan pada keinsafan akan manfaatnya segera ditetapkan bahasa nasional untuk seluruh Kepulauan Indonesia. Ada keikhlasan mengabaikan semangat dan rasa kesukuan karena sadar akan perlunya kesatuan dan persatuan.

4.      Kesanggupan bahasa itu sendiri yang menjadi salah satu faktor penentu; jika bahasa itu tak mempunyai kesanggupan untuk dapat dipakai menjadi bahasa kebudayaan dalam arti yang luas, tentulah bahasa itu akan tak dapat berkembang menjadi  bahasa yang sempurna. Kenyataan membuktikan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang dapat dipakai untuk merumuskan pendapat secara tepat dan mengutarakan perasaan secara jelas.

Pada zaman itu bahasa Melayu (bahasa Indonesia) memang sanggup untuk menjadi bahasa kebudayaan. Misalnya, Balai Pusataka pada masa Pujangga Baru banyak menerbitkan buku bermutu dengan bahasa tersebut. Koran dan majalah juga banyak yang berbahasa Melayu, termasuk media milik orang Belanda dan Tionghoa.

Namun, bagaimana pemakaian bahasa Indonesia dewasa ini?

“Memprihatinkan,” kata Kepala Pusat Bahasa, Dendy Sugono. Ia mengemukakan hal itu dalam berbagai kesempatan. Salah satu contoh yang sering ia kemukakan ialah penggunaan bahasa “gado-gado”, yaitu pencampur-adukan bahasa Indonesia dengan bahasa asing, terutama Inggris. “Ini menunjukkan tidak ada kepercayaan jati diri  bangsa,” keluhnya.

Sastrawan Ajip Rosidi menilai keprihatinan tersebut telah mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan. “Sudah seribu persen,” ucapnya. Hal ini terlihat jelas pada pemakaian bahasa di media massa, baik cetak maupun elektronik, katanya pada seminar bahasa yang diselenggarakan oleh Akademi Jakarta 26 November 2005. Namun, dia masih optimistis karena, “… tingkat kesadaran teman-teman wartawan media cetak cukup tinggi.”

Sebagai salah satu bentuk keprihatinan, Zaenal Arifin dan Farid Hadi menyusun buku berjudul 1001 Kesalahan Berbahasa. Kesalahan tersebut memang benar-benar berjumlah 1.001.  Suatu jumlah yang banyak.

Tidak heran bila almarhum Prof. Dr. Slamet Iman Santoso, guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, gusar, “Setiap hari kita disuguhi pemakaian bahasa yang amburadul. Itu menunjukkan kesemerawutan otak penuturnya.”[4]

Amburadul itu kacau-balau.

Prospek Pembelajaran dengan Memanfaatkan TIK

Bila keberbahasaan masyarakat sekarang ini memprihatinkan dan kacau-balau, hal ini tidak terlepas dari produk berbahasa di sekolah. Hasil ujian nasional yang mengecewakan (73 tidak lulus) menunjukkan bagaimana pembelajaran bahasa di sekolah. Penyebabnya minat siswa belajar bahasa Indonesia rendah dan metode pembelajaran yang lemah.

Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan itu ialah dengan mengintensifkan pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Pemanfaatan seperti itu sebenarnya bukan hal baru. Masalahnya, pemanfaatan tersebut belum maksimal karena berbagai kendala.

Sebelum membahas faktor penghambat dan pendukung mengenai hal itu, sebaiknya kita membahas:

  1. Media pembelajaran
  2. Bahan ajar, dan
  3. Metode pembelajaran.
  1. 1.      Media Pembelajaran

Untuk meningkatkan kegiatan proses belajar mengajar diperlukan media pembelajaran.  Media pembelajaran adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar yang berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan untuk mencapai tujuan pelajaran dengan lebih efektif efisien.

Bahasa adalah  alat berkomunikasi. Oleh karena itu, media yang digunakan pun harus mendukung konsep pembelajaran bahasa tersebut. Guru harus pandai-pandai memilih media yang tepat, yakni:

  • Media yang dipilih hendaknya menunjang tujuan pembelajaran.
  • Media yang digunakan hendaknya sesuai untuk menyampaikaan pesan yang hendak dikomunikasikan atau diinformasikan.
  • Media yang digunakan hendaknya sesuai dengan tingkat kemampuan siswa, tingkat pendekatan terhadap pokok masalah, besar kecilnya kelompok, atau jangkauan penggunaan media tersebut.
  • Biaya hendaknya seimbang dengan hasil yang telah diharapkan dan sesuai dengan dana yang tersedia.
  • Apakah media yang digunakan cukup tersedia atau tidak? Apakah ada pergantian media lain yang relevan? Apakah direncanakan untuk perseorangan atau kelompok?
  • Kualitas media juga harus dipertimbangkan, jika media sudah rusak, kurang jelas atau terganggu, sehingga perlunya penggantian teknis baru. (Daryanto, 1993:3).

Media pembelajaran bahasa dengan TIK dikaitkan dengan aspek menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

a. Aspek Menyimak

Teknologi yang dapat dimanfaatkan antara lain media elektronik dan tape recorder. Guru menugasi siswa mendengarkan berita radio atau televisi. Siswa dilatih untuk menangkap isi berita. Apa inti isi berita tersebut, apa maksudnya, hal apa yang penting dan menarik, apa manfaatnya, dan seterusnya.

b. Aspek Berbicara

Pada hari berikutnya satu per satu siswa diminta untuk menceritakan apa yang didengarnya di radio atau televisi. Sebaiknya mereka berbicara nerdasarkan catatan agar tidak ada hal penting yang terlewatkan. Bila perlu, siswa berbicara dengan menggunakan pengeras suara (loud speaker atau pelantang). Masalahnya, sebagian siswa berbicara pelan, sehingga tidak terdengar ke seluruh kelas. Selain itu dalam kehidupan sehari-hari kelak pelantang sering digunakan, umpamanya pada seminar. Jika tidak terbiasa banyak orang yang gugup dan gagap menghadapi pengeras suara.
c. Aspek Membaca

Ada baiknya siswa diajak berkunjung ke stasiun televisi untuk menyaksikan bagaimana pembaca berita membaca berita pada layar di depannya. Mereka membaca seakan-akan bercerita, bukan membaca teks. Tidak kaku dan tersendat-sendat.
d. Aspek Menulis

Tugas menyimak dan berbicara seyogianya dilanjutkan dengan tugas menulis. Masing-masing siswa diminta untuk membuat tulisan dalam bentuk berita berdasarkan berita yang merka dengar di radio atau TV.

Teknologi Informasi dan Komunikasi (Information and Communication Technologies) bukanlah merupakan hal baru. Akan tetapi, terasa seakan istilah tersebut baru hadir sekarang ini saja. Masalahanya, teknologi tersebut dulu hanya melibatkan lingkungan terbatas, sedangkan kini semakin banyak pemakainya dan kemampuannya kian canggih. Misalnya:

Pada tahun 1970-an seseorang harus antre menunggu selama lima tahun untuk pemasangan telepon di rumahnya. Biayanya pun mahal pula. Sekarang sangat mudah dan amat murah. Kemampuannya juga luar biasa. Hand phone bukan hanya digunakan untuk menelepon, melainkan dapat pula dipakai untuk mengirim dan menerima pesan singkat, mendengarkan radio,  memotret, penunjuk waktu, penanggalan, internetan, dan lain-lain.

Teknologi Informasi dan Komunikasi dimulai ketika Alexander Graham Bell menemukan telepon pada tahun 1875. Masih sangat sederhana. Namun, berkembang pesat, sehingga hanya dalam tempo beberapa tahun sudah dibangun jaringan komunikasi dengan kabel ke seluruh daratan Amerika Serikat, bahkan kemudian pemasangan kabel trans-Atlantik.

Seperempat abad setelah itu penemuan telepon,  terwujudlah transmisi suara tanpa kabel melalui siaran radio yang pertama. Komunikasi suara tanpa kabel ini pun segera berkembang cepat.

Lalu diikuti pula oleh transmisi audio-visual tanpa kabel yang berwujud siaran televisi pada tahun 1940-an.

Tiga tahun kemudian mulai beroperasi komputer elektronik pertama. Komputer generasi pertama tersebut sangat jauh keadaannya dengan sekarang. Satu unit komputer ketika itu memerlukan tempat satu gudang untuk menampung   18.000 tabung vakum dengan  70.000 resistor,  5 juta titik solder, dengan memerlukan daya listrik 160 kw.

Komputer sekarang ini tidak hanya digunakan sebagai alat hitung, tetapi juga untuk mengetik, membuat gambar, memproses foto, surat menyurat (e-mail), mencari informasi secara cepat, dan lain-lain.  Singkatnya telah lahir revolusi baru.

Menurut Wikipedia, bila revolusi industri menjadikan mesin-mesin sebagai pengganti “otot” manusia, maka revolusi digital (karena konvergensi telekomunikasi-komputasi multimedia terjadi melalui implementasi teknologi digital) menciptakan mesin-mesin yang mengganti (atau setidaknya meningkatkan kemampuan) “otak” manusia.

Penerapan TIK untuk Pendidikan

Kemajuan ilmu dan teknologi telah sangat membantu dunia pendidikan. Misalnya, seorang siswa merasa tidak mengerti keterangan gurunya tentang hukum Archimedes. Nama itu tidak dikenalnya. Hukum yang dibuatnya terasa berbelit-belit dan susah dimamah. Lebih parahnya lagi, ia tidak tahu untuk apa harus menghafal hukum  tersebut dan apa kegunaannya.

Siswa tersebut disuruh oleh ayahnya untuk mencari keterangan mengenai Archimedes di internet. Dengan bantuan mesin pencari data, Google, dalam tempo 0,23 detik ia memperoleh 2.730.000 data tentang Archimedes. Walhasil ia memperoleh informasi jauh melebihi dari yang ia perlukan.

Untuk pendidikan internet juga menyediakan e-book, e-learning, e-laboratory, e-education, e-library, dan sebagainya. Awalan e bermakna electronics yang secara implisit dimaknai berdasar teknologi elektronika digital.

Buku elektronik atau e-book adalah salah satu teknologi yang memanfaatkan komputer untuk menayangkan informasi multimedia dalam bentuk yang ringkas dan dinamis. Dalam sebuah e-book dapat diintegrasikan tayangan suara, grafik, gambar, animasi, dan movie sehingga informasi yang disajikan lebih kaya dibandingkan dengan buku konvensional.

E-learning

E-learning adalah pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi elektronik sebagai sarana penyajian dan distribusi informasi, termasuk siaran radio dan televisi. Meskipun radio dan televisi pendidikan merupakan bentuk e-learning, umumnya disepakati bahwa e-learning mencapai bentuk puncaknya setelah bersinergi dengan teknologi internet. Internet-based learning atau web-based learning dalam bentuk paling sederhana adalah website yang dimanfaatkan untuk menyajikan materi-materi pembelajaran. Cara ini memungkinkan pembelajar mengakses sumber belajar yang disediakan oleh narasumber atau fasilitator kapan pun dikehendaki.

Fasilitas e-learning yang lengkap disediakan oleh perangkat lunak khusus yang disebut perangkat lunak pengelola pembelajaran atau learning management system (LMS). LMS mutakhir berjalan berbasis teknologi internet, sehingga dapat diakses dari mana pun selama tersedia akses ke internet. Fasilitas yang disediakan meliputi pengelolaan siswa atau peserta didik, pengelolaan materi pembelajaran, pengelolaan proses pembelajaran termasuk pengelolaan evaluasi pembelajaran serta pengelolaan komunikasi antara pembelajar dengan fasilitator-fasilitatornya. Fasilitas ini memungkinkan kegiatan belajar dikelola tanpa adanya tatap muka langsung di antara pihak-pihak yang terlibat (administrator, fasilitator, peserta didik atau pembelajar). “Kehadiran” pihak-pihak yang terlibat diwakili oleh e-mail, kanal chatting, atau melalui video conference.

Telah lama TIK digunakan dalam pembelajaran. Dulu melalui radio  dan televisi pendidikan.

Kelemahan dan Keunggulan

Kelemahan utama siaran radio dan televisi pendidikan adalah tidak adanya feedback yang seketika. Siaran bersifat searah yaitu dari narasumber atau fasilitator kepada pembelajar.      Introduksi komputer dengan kemampuannya mengolah dan menyajikan tayangan multimedia (teks, grafis, gambar, suara, dan gambar bergerak) memberikan peluang baru untuk mengatasi kelemahan yang tidak dimiliki siaran radio dan televisi. Bila televisi hanya mampu memberikan informasi searah (terlebih jika materi tayangannya adalah materi hasil rekaman), pembelajaran berbasis teknologi internet memberikan peluang berinteraksi baik secara sinkron (real time) maupun asinkron (delayed).

Pembelajaran berbasis Internet memungkinkan terjadinya pembelajaran secara sinkron dengan keunggulan utama bahwa pembelajar maupun fasilitator tidak harus berada di satu tempat yang sama. Pemanfaatan teknologi video conference yang dijalankan dengan menggunakan teknologi Internet memungkinkan pembelajar berada di mana saja sepanjang terhubung ke jaringan komputer. Selain aplikasi unggulan seperti itu, beberapa peluang lain yang lebih sederhana dan lebih murah juga dapat dikembangkan sejalan dengan kemajuan TIK saat ini.

 


[1]  Prof. Dr. Koentjaraningrat, makalah disampaikan pada Seminar “Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya”, yang diselenggarakan di Tanjungpinang, Riau.

[2] Slametmulyana, Prof. Dr. dalam Dr. J. S. Badudu, Pelik-Pelik Bahasa Indonesia, Pustaka Prima, Bandung

[3] Fonologi, ilmu tentang bunyi bahasa. Morpologi, ilmu tentang kata-kata. Sintaksis, ilmu tentang susunan kata dan kalimat

[4] Media Indonesia, 17 April 1997.

This entry was posted in Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s